GERBANGJATIM.COM – Di tengah tantangan industri energi dan petrokimia yang semakin kompleks, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) justru menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari capaian produksi dan keuntungan perusahaan.
TPPI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang petrokimia dan energi serta bagian dari grup Pertamina dan TubanPetro Group. Perseroan memproduksi berbagai produk aromatik dan energi yang mendukung kebutuhan industri serta ketahanan energi nasional.
Produk utama TPPI meliputi paraxylene, benzene, orthoxylene, heavy aromatic, dan toluene, serta produk petroleum seperti light naphtha, gas oil, dan bahan bakar, seperti Mogas RON 90 dan RON 92.
Dari semua produk-produk keren itu, keberhasilan sejati juga lahir dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Prinsip itulah yang kini mengantarkan TPPI meraih penghargaan nasional bergengsi TOP CSR Awards 2026 #Stars 4 sekaligus penghargaan TOP Leader on CSR Commitment 2026 untuk Presiden Direktur TPPI, Iman Syafirman.
Penghargaan yang diumumkan di Jakarta pada (25/5/2026) tersebut menjadi bukti bahwa komitmen keberlanjutan berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) bukan sekadar slogan korporasi. TPPI membuktikannya lewat aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat pesisir Tuban.
Ajang TOP CSR Awards 2026 sendiri bukan penghargaan biasa. Tahun ini, sebanyak 244 perusahaan dari berbagai sektor industri mendaftar dan 224 perusahaan mengikuti proses penilaian lengkap.
Seluruh peserta harus melewati tahapan penjurian ketat oleh dewan juri independen yang menilai implementasi CSR, integrasi ESG, tata kelola keberlanjutan perusahaan, hingga dampak nyata program terhadap masyarakat dan lingkungan.
Di antara ratusan perusahaan tersebut, TPPI berhasil masuk dalam jajaran 40 perusahaan terbaik peraih TOP CSR Awards 2026 #Stars 4. Sebuah pencapaian yang terasa istimewa karena penghargaan ini berhasil diraih tiga tahun berturut-turut.
Namun di balik penghargaan itu, ada cerita panjang tentang masyarakat pesisir Tuban yang perlahan bangkit, bertumbuh, dan menemukan harapan baru melalui program “Primadona Tuban”.
Dari Pesisir Tuban, Harapan Itu Tumbuh
Mentari pagi baru saja naik ketika para nelayan di kawasan pesisir Tuban mulai menyiapkan perahu mereka. Di sebuah bengkel sederhana dekat dermaga desa, beberapa warga tampak memperbaiki mesin kapal. Bengkel itu bukan sekadar tempat servis mesin, melainkan simbol perubahan yang lahir dari kolaborasi masyarakat dan perusahaan.
Bengkel nelayan tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan TPPI melalui Program Primadona Tuban, sebuah program pemberdayaan masyarakat pesisir yang dirancang berdasarkan hasil social mapping agar benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Tak hanya memberikan bantuan alat tangkap ikan bagi Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan, TPPI juga membangun rumah bengkel dan menyediakan peralatan perawatan kapal agar masyarakat dapat mandiri dalam merawat armada mereka sendiri.
Hasilnya mulai terasa. Produktivitas melaut meningkat, biaya perawatan kapal berkurang, dan pendapatan keluarga nelayan perlahan membaik.
Di sisi lain kawasan Pantai Panduri, geliat ekonomi juga terlihat dari aktivitas kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar) binaan TPPI. Berbagai olahan hasil laut dipasarkan melalui stand UMKM yang kini menjadi daya tarik baru di kawasan wisata pantai.
Menariknya, sebagian produk olahan tersebut juga terintegrasi dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan lansia di tiga desa sekitar wilayah operasional perusahaan. Sebuah langkah sederhana namun berdampak besar: membantu meningkatkan gizi masyarakat sekaligus membuka pasar baru bagi pelaku usaha lokal.
“Program ini bukan hanya tentang bantuan sesaat, tetapi bagaimana masyarakat bisa tumbuh mandiri dan memiliki daya tahan ekonomi jangka panjang,” ujar Area Manager CSR & Comrel TPPI, Tinoto Hadi Sucipto.
Menurut Tinoto, keberhasilan Program Primadona Tuban lahir dari keterlibatan banyak pihak. Pemerintah desa, kelompok masyarakat, hingga berbagai instansi ikut terlibat dalam memastikan program berjalan sesuai kebutuhan warga.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dan memperluas dampak program agar mampu menciptakan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.
Bagi sebagian orang, industri petrokimia sering kali dipandang bertolak belakang dengan isu lingkungan. Namun TPPI mencoba menghadirkan pendekatan berbeda. Perusahaan ini menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Melalui Program Primadona Tuban, berbagai inisiatif lingkungan turut dijalankan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pembangunan infrastruktur kawasan pantai, hingga konservasi vegetasi pesisir sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim.
TPPI juga mendorong penerapan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah non-B3 menjadi produk bernilai guna. Bank sampah masyarakat turut diperkuat agar pengelolaan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya bersama.
Di wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi dan perubahan iklim, langkah-langkah tersebut menjadi sangat penting. Vegetasi pantai yang ditanam bukan hanya menjaga garis pantai, tetapi juga membantu penyerapan karbon dan menjaga ekosistem pesisir.
Presiden Direktur TPPI, Iman Syafirman, menegaskan bahwa penghargaan yang diterima perusahaan harus menjadi energi baru untuk terus memperkuat kontribusi sosial dan lingkungan perusahaan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan program CSR yang tidak hanya memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Bagi TPPI, penghargaan bukanlah garis akhir. Pengakuan nasional ini justru menjadi pengingat bahwa keberadaan industri harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Di Tuban, perubahan itu mulai terlihat perlahan. Nelayan semakin percaya diri melaut dengan fasilitas yang lebih baik. Pelaku UMKM pesisir mulai memiliki pasar yang lebih luas. Kesadaran menjaga lingkungan tumbuh bersama semangat membangun ekonomi lokal.
Apa yang dilakukan TPPI menunjukkan bahwa konsep ESG tidak harus terdengar rumit dan jauh dari masyarakat. Di tangan yang tepat, ESG bisa hadir dalam bentuk bengkel nelayan, stand UMKM di tepi pantai, makanan bergizi untuk balita, hingga bank sampah yang dikelola warga sendiri.
Dan dari pesisir Tuban itulah, sebuah pesan sederhana namun kuat lahir, bahwa industri besar tetap bisa tumbuh tanpa meninggalkan masyarakat dan lingkungan di belakangnya.





