GERBANG TUBAN –
Harga Telur di Tuban Tembus Rp30 Ribu per Kilogram. Kenaikan ini membuat pembeli, terutama pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan pengusaha makanan rumahan, semakin menjerit.
Salah satunya dialami Mujianto, pengrajin kue basah asal Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban. Imbas dari kenaikan harga yang cukup signifikan ini mulai dirasakan oleh para produsen kue basah. Harga bahan baku seperti telur dan gula terus naik, sementara harga jual produk tidak bisa dinaikkan karena khawatir kehilangan pelanggan.
Mujianto, pengrajin kue basah asal Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban, dia mengaku kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha kecil terpaksa mengurangi produksi. Bahkan, beberapa rekan seprofesinya memilih berhenti sementara karena biaya produksi semakin tinggi.
“Banyak teman-teman di sini yang pilih libur dulu, soalnya makin hari bahan baku tambah mahal. Kalau diteruskan, bisa-bisa malah rugi,” ungkap Mujianto, Sabtu (11/10/2025).
Mujianto menambahkan, kenaikan harga telur yang tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual membuat keuntungan semakin menipis.
“Kalau harga kue ikut dinaikkan, pelanggan bisa kabur. Tapi kalau dibiarkan, modal nggak balik. Serba salah,” tambahnya.
Di sisi lain, para penjual telur juga ikut merasakan dampaknya. Khoirul Hadi, pedagang telur asal Desa Sugiharjo yang melayani pembelian eceran dan grosir, menyebut harga terus naik sejak sepekan terakhir — dari Rp28 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram.
“Pelanggan hampir setiap hari tanya, kenapa harga telur naik terus. Tapi saya juga nggak bisa apa-apa, karena dari pemasoknya memang sudah naik,” tutur Khoirul.
Kondisi ini membuat banyak pembeli menunda pembelian dalam jumlah besar, terutama para pelaku usaha kuliner. Namun, bagi masyarakat, telur tetap menjadi kebutuhan pokok yang sulit digantikan karena kandungan proteinnya yang tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Tuban, Gunadi, mengungkapkan kenaikan harga telur dipicu oleh dua faktor utama: menurunnya produksi akibat musim pancaroba dan meningkatnya permintaan masyarakat pada bulan Maulid.
“Tingginya harga telur dipengaruhi produksi yang menurun, sementara permintaan meningkat karena banyak warga punya hajatan. Kondisi ini terus kami pantau dan akan kami cermati langkah intervensi yang diperlukan,” jelas Gunadi.
Eks Kasatpol PP dan Kadishub Kabupaten Tuban ini menambahkan, pemerintah daerah tengah menyiapkan langkah antisipasi jika harga terus merangkak naik. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah subsidi biaya transportasi untuk menekan harga di tingkat pasar.
“Kalau harga terus naik, bisa juga alternatif intervensi melalui subsidi transportasi. Setiap hari kami pantau, dan besok ada rapat inflasi dengan Kemendagri yang juga akan membahas soal ini,” ujarnya.
Dengan kondisi harga yang belum stabil, baik pelaku usaha maupun pembeli berharap harga telur segera turun agar roda ekonomi kecil di Tuban tetap bisa berputar. (*)





